I am Hope Adalah Mimpi Yang Tidak Pernah Tidur

InfoSinema – Sebuah film Produksi Alkimia Production berjudul I am HOPE, Harapan Adalah Mimpi yang Tidak Pernah Tidur.

I am HOPE
Harapan Adalah Mimpi yang Tidak Pernah Tidur

Film I am HOPE di Produseri oleh Wulan Guritno, Janna Soekasah Joesoef, Amanda Soekasah, dan di Sutradarai Adilla Dimitri yang juga menulis cerita skenario bersama Samara.

Didukung para pemain seperti Tatjana Saphira, Alessandra Usman, Tyo Pakusadewo, Fachriy Albar, Febby Febiola, Ariyo Wahab, Fauzi Baadila, Ray Sahetapy, Kenes Andari.

Film I am HOPE berdurasi 108 menit dan tayang mulai 18 Februari 2016 dan seterusnya.

Bermula dari keprihatinan oleh banyaknya pasien khususnya wanita, yang langsung merasa putus asa, kala dokter mendeteksi dirinya mengidap kanker.

Padahal kanker bukanlah penyakit yang tidak mungkin disembuhkan, apalagi bila tekun menjalani perawatan sejak dini.

Maka tiga wanita pejuang seni yakni Wulan Guritno, Janna Soekasah Joesoef, dan Amanda Soekasah bertekat bulat untuk mengabarkan semangat bagi para pasien kanker.

Semula dari kain percaya sisa guntingan Ghea Soekasah dijalin dan dipilin menjadi gelang harapan.

Penjualan pertama 25 buah gelang harapan kini berkembang menjadi lebih dari 20.000 terjual.

Seluruh hasil penjualan tersebut didonasikan khususnya untuk para penderita kanker yang kurang mampu di kota-kota kecil, antara lain di Trenggalek.

Perkembangan berikutnya diproduksi sebuah film drama yang bertujuan agar ditonton sebanyak-banyaknya oleh para penderita kanker dan dengan demikian menumbuhkan semangat mereka untuk sembuh serta beraktivitas seperti biasa.

Sang Sutradara Adilla Dimitri, bukan lain daripada suami Wulan sendiri.

Sedangkan didapuk menjadi pemeran utamanya, Tatjana Saphira, adalah seorang bintang muda berbakat, dipertemukan dengan pendatang baru Alessandra Usman sebagai Wanita Bernuansa Pelangi nan misterius.

Sedangkan sang ayah dipercayakan pada aktor watak kawakan Tyo Pakusadewo yang dalam kehidupan sebenarnya, istrinya tengah dirawat karena mengidap kanker di Singapura.

Ada pun Fachry Albar didapuk menjadi aktor teater tampan yang ternyata gamang pada ketinggian.

Sinopsis
Mia, 23 tahun, adalah gadis yang bertekat keras untuk membuat sebuah pertunjukan teater berdasarkan naskahnya sendiri.

Namun mimpi tersebut harus terhenti sementara karena ia divonis mengidap kanker, penyakit sama yang telah merengut ibunya yang juga seorang sutradara teater bertahun-tahun silam.

Mia yang berasal dari keluarga serba berkecukupan, kini pun terpaksa hidup ala kadarnya karena biaya pengobatan ibunya dahulu.

Ayahnya pun, komponis Raja, bagai terpuruk dan tenggelam.

Dan semenjak vonis kaner terdengar di telinga Mia, saat itu juga ia merasa seluruh pengalaman kelam yang pernah menimpa keluarganya akan kembali terulang.

Ayahnya akan kembali terpuruk, ekonomi makin merosot, dan yang paling tergaris bawah merah baginya, adalah mimpinya yang perlahan sirna.

Namun, Mia selalu ditemani oleh Wanita Bernuansa Pelangi, yang setia dan bersikap positif disampingnya.

Mia tegar berjuang menghadapi proses kemoterapi, sampai hampir seluruh energi yang telah disiapkan habis terkuras.

Pada suatu hari di antara ronde-ronde pengobatan yang dijalaninya, Mia mendatangi sebuah PH (Production House) untuk menemui Produser Ternama Rama Sastra dan memberikan naskah yang menjadi mimpi juga semangatnya.

Namun semangat Mia harus terbentur kekecewaan.

Rama gagal ditemui, dengan penuh kekecewaan Mia pulang, dan menemukan sebuah pertunjukan kecil dari poster yang menarik perhatiannya.

Mia masuk untuk menonton pertunjukan kecil dari poster yang menarik perhatiannya.

Mia masuk untuk menonton pertunjukan itu.

Pandangannya terpaku pada aktor tampan, David, yang membuat debar jantung Mia tak seperti biasanya, seolah mereka memiliki sebuah ikatan.

Usai pertunjukan, Mia yang sedang bergegas pulang bertemu kembali dengan David, yang kemudian menjadi awal perkenalan mereka.

Mia pun terus menjalin komunikasi dengan sang aktor, sampai ia mendapat bantuannya untuk menyerahkan langsung naskah yang ia tulis kepada Rama Sastra.

Seperti pelangi yang muncul di tengah hujan, upaya David dan Mia tersebut ternyata membuahkan hasil yang sangat baik.

Mereka berhasil membuat Rama setuju untuk membaca naskah tersebut, bahkan sampai tergerak untuk membantu Mia mewujudkan impiannya menjadi kenyataan.

Dengan dukungan penuh David, Wanita Bernuansa Pelangi, dan keoptimisan yang tinggi, Mia pun kembali mengejar mimpinya. Sampai titik penghabisan, di mana mental yang melampaui fisik tidaklah cukup lagi, Mia harus terbaring diam di rumah sakit.

Mia yang frustasi harus menjalani operasi pengangkatan sel kankernya tak pantang menyerah.

Keteguhan semangat Wanita Bernuansa Pelangi menyelimuti hati Mia yang juga tidak pernah padam, mengajaknya untuk menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.

Usai melalui operasi yang sukses, Mia segera kembali mengejar impiannya.

Wanita Bernuansa Pelangi, seperti sel positif yang selalu membantu Mia dalam pengobatannya melawan sel-sel negatifnya, atau kanker.

Wanita bernuansa Pelangi, seperti perwujudan ide dan angan Mia, atas segala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>