5 Film Dokumenter di Eagle Award

InfoSinema - Premiere merupakan momentum awal sebelum film dilepas dan memulai fungsinya di tengah-tengah penonton film dokumenter Indonesia. Di tahun 2017 ini Eagle Awards Documentary Competition 2017 hadir dengan tema “Indonesia Cerdas”. Pada tahun ini telah terpilih lima proposal ide film terbaik yakni (1) Marka, (2) Andreas, Melawan Realitas, (3) Mengeja Belantara, (4) Mendengar Senyuman, dan (5) Di Atas Genteng.

Selain sebagai sebuah perayaan ide dan perataan bentuk estetik, program Eagle Awards Documentary Competition dengan tema “Indonesia Cerdas” juga bisa menjadi sebuah medium untuk meneropong cara pandang kaum intelektual muda Indonesia dalam melihat aspek-aspek pendidikan di Indonesia beserta ruang lingkupnya. Seperti halnya dalam Antologi film dokumenter Eagle Awards 2017, kita bisa melihat keberagaman perspektif dan cara melihat kenyataan yang unik serta konstruktif dunia pendidikan beserta dinamika lainnya seperti; kebijakan politik, adat, kemandirian, seni dan realitas lainnya.

Eagle Awards Documentary Competition, merupakan perpaduan program  antara kompetisi, pendidikan dan produksi. Dalam tahapan pendidikan film, kelima sutradara dari lima ide film terpilih didorong untuk terus dapat menyampaikan gagasan, sikap, dan pandangannya melalui medium film  dengan tetap mempertimbangkan nilai moral, idwologi dan etika. Karena film Eagle Awards bukan semata-mata lahir untuk kepentingan-kepentingan estetika, namun juga harapannya mampu mengubah realitas kearah yang lebih baik.

Dan kini pemutaran perdana kelima film tersebut akan kami lakukan pada hari Rabu, 4 Oktober 2017 bertempat du Cinema XXI Plaza Senayan -Jakarta. Dengan diluncurkannya Antologi Film Dokumenter Eagle Awads Documentary Competition 2017 ini, semoga kami bisa berkontribusi bagi perkembangan film dokumenter di Indonesia baik menyangkut perkembangan estetika maupun perkembangan kajian film dokumenter.

1. Marka
Direktor : Akhmad Saufuddin dan Ineu Rahmawati
Supervisor : Insan Indah Pribadi
Canera person : Nurtaqdir Anugrah
Editor : Agus Darmawan
Lokasi : Serawak Malaysia
Durasi : 00:24:51

Sinopsis :
Icha (12) adalah seorang anak TKI sekaligus siswi kelas 6 Community Learning Center (CLC) Saremas, Serawak Malaysia yang telah mengikuti ujian paket A dan akan menerima ijazah kelulusannya. Ia bercita-cita menjadi seorang penari profesional. Namun Keinginannya untuk  melanjutkan sekolah demi memperjuangkan cita-citanya harus terhalang oleh peraturan yang membatasi pendidikan anak TKI di Sarawak, Malaysia hanya sampai 12 tahun saja. Selain itu, orang tua Icha juga tidak mengizinkan Icha untuk kembali ke Indonesiadan melanjutkan sekolah di tanah air. Meskipun demikuan, ketiga kakaknya tidak menginginkan Icha bernasib sama seperti merka yang harus putus sekolah danbekerja di perkebunan kelapa sawit. Mereka terus berusaha untuk memulangkan Icha dan melanjutkan sekolahnya di Indonesia. Bagaimanakah Icha menghadapi kenyataan bahwa Ia tidak dapat melanjutkan sekolah lagi?

2. “Andreas Melawan Realitas”
Director : Protus Hyasintus Asalang & Handrianus Kolibasa Basabelolon
Supervisor : Daniel Rudi Haryanto
Camera Person : Suharja Nasrun
Editor : Taufik Arifianto
Lokasi : Kabupaten Boven Digoel, Papua
Durasi : 00:24:51

Sinopsis :
Film ini bercerita tentang Andreas Aujat (17 tahun), anak dari salah seorang tuan dusun/tuan tanah di Kabupaten Boven Digoel-Papua, yang berjuang menggapai cita-citanya di tengah berbagai tantangan hidup. Mulai dari masalah dari dalam keluarga seperti keterbatasan ekonomi, lingkungan sosial yang mempengaruhi masa pertumbuhan hingga perkembangannya sebagai seorang pelajar. Minuman keras dan mabuk-mabukan adalah kebiasaan buruk dan menjadi tempat pelarian ketika problem hidup kian mengekang. Andreas dalam perjuangannya harus memilih antara buku, demi masa depan yang cerah, atau botol yang justru merusak citra dan citanya. Di tengah perjuangannya itu, Januarius hadir sebagai seorang sahabat yang peduli pada persoalan yang sedang dihadapi Andreas. Ia mengajak Andreas untuk tetap menggapai mimpi masa depannya. Meskipun demikian, Andreas masih terbuai oleh kenikmatan miras yang baginya bisa menyelesaikan semua persoalan yang sedang digumulinya. Sedangkan Januarius masih tetap pada prinsip bahwa masa depan itu perlu diperjuangkan dengan berlari sekencang-kencangnya agar kebahagiaan dan kesuksesan yang berada jauh di depan matanya dapat ia peroleh.

3. Mengeja BelantaraDirector : Syamsuddin dan Samsuddin

Supervisor : Tommy Fahrizal
Camera Person : Kurnia Yudha Fitranto
Editor : Pandu Dwi Angga
Lokasi : Mamuju, Sulawesi Barat
Durasi : 00:24:51

Sinopsis :
Aco Mulyadi adalah salah satu guru dan pengagas sekolah alam yang di dirikan di desa Salulebbo kab.Mamuju Prov.Sulawesi Barat. Sekolah Alam didirikan secara mandiri oleh masyarakat Salulebbo untuk memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat.Sekolah alam tersebut dikelola dengan sistem pengajaran berbasis nilai-nilai lokal, untuk mempersiapkan generasi yang cakap dalam mengelola dan membangun desanya.Walaupun terletak cukup jauh dari pusat kota, namun kemandirian telah menjadi kekuatan bagi eksistensi sekolah yang sudah berdiri selama 13 tahun. Namun kini pembangunan bendungan telah menjadi ancaman bagi masyarakat dan sekolah.

4. Mendengar Senyuman
Director Carya Maharja & Radisti Ayu Praptiwi
Supervisor : Wisnu Suryapratama
Camera person : Vera Ita Lestafa
Editor : Supriyadi
Lokasi : Bekasi Jawa Barat
Durasi : 00:24:51

Sinopsis :
Film “Mendengar Senyuman” berkisah tentang seorang tunanetra, Rusim, yang sempat merasa putus asa – bahkan pernah mencoba bunuh diri – karena tidak pernah mendapatkan kesempatan bersekolah. Hal ini menyebabkan ia selalu terhantui oleh kecemasan dan kegagalan. Akhirnya pada umurnya yang ke 28 tahun ia baru dapat mengenyam pendidikan keterampilan di sebuah panti sosial milik pemerintah. Saat ini Rusim mulai berani untuk percaya diri dan bermimpi akan cita-cita yang dapat ia raih. Tidak ada kata terlambat bagi seseorang – baik tua atau muda, penyandang disabilitas ataupun tidak – dalam menentukan jalan hidup dan menuntut ilmu.

5. Di Atas Genteng
Director : Ika Yuliana & Sangga Aria Wifama
Supervisor Darwin Nugraha
Camera person : Goen Guy Gunawan
Editor : Darwin Nugraha
Lokasi : Jatiwangi, Jawa Barat
Durasi : 00:23:00

Sinopsis :
Film ini bercerita tentang desa Jatiwangi yang dikenal sebagai sejarah peradaban genteng di Indonesia, yang kini tengah terancam kebahagiaannya akibat masuknya industri-industri pabrik baru. Kadus Ila (40) bersama komunitas seni desa, Jatiwangi Art Factory (JaF) membuat ‘keributan’ dengan mengadakan acara lomba binaraga untuk para pekerja genteng, sebagai salah satu upaya menyadarkan masyarakat untuk mempertahankan tradisi genteng mereka bersama-sama, dan untuk berkata pada orang asing bahwa di Jatiwangi ada peradaban.

Anda juga dapat menyaksikan kembali film-film tersebut di saluran Metro TV.

Marka – Senin 9 Oktober 2017 Jam 22:30-23:00 WIB dan Senin 16 Oktober 2017 Jam 15:30 – 16:00 WIB

Andreas : Melawan Realitas – Selasa 10 Oktober 2017 Jam 22:30-23:00 WIB dan Selasa 17 Oktober Jam 15:30 – 16:00 WIB

Mengeja Belantara – Rabu 11 Oktober 2017 Jam 22:30 – 23:00 WIB dan Rabu 18 Oktober Jam 15:30 – 16:00 WIB

Mendengar Senyuman – Kamis 12 Oktober 2017 Jam 22:30 – 23:00 WIB dan Kamis 19 Oktober Jam 15:30 – 16:00 WIB

Di Atas Genteng – Jumat 13 Oktober 2017 Jam 22:30 – 23:00 WIB dan Jumat 20 Oktober Jam 15:30 – 16:00 WIB

Para penonton juga dapat ikut memilih siapa yang berhak menjadi pemenang kategori “Film Favorit Pilihan Pemirsa” dalam Eagle Awards Documentary Competition 2017 melalui web voting di www.eagleinstitute.id/vote.

Voting dibuka mulai tanggal 4 Oktober 2017, mulai pukul 00:00 WIB, dan akan ditutup pada tanggal 27 Oktober 2017, pukul 23:59 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>